Perubahan arah serta melemahnya kecepatan angin di lapisan atmosfer turut memengaruhi pergeseran sebaran asap.
Meski demikian, BMKG mengingatkan bahwa keberadaan asap yang terdeteksi satelit tidak otomatis menunjukkan peningkatan polutan di permukaan.
Masyarakat tetap diminta memantau kualitas udara dan tidak panik. Di Kemayoran, Jakarta, konsentrasi PM2.5 tercatat 46,7-109,7 µg/m³ atau berada pada kategori sedang hingga tidak sehat.
Sementara itu, BMKG mencatat masih terdapat 478 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi pada 16 Oktober 2026.
Sumatera Selatan menjadi wilayah dengan titik panas terbanyak, yakni 189 titik, disusul Jawa Timur 89 titik dan Papua Selatan 63 titik.
Plt Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani mengatakan sebaran asap masih terpantau di sejumlah wilayah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.
"Meski demikian, jumlah titik panas harian di Kalimantan Tengah menurun signifikan dibandingkan pemantauan pada 15 Oktober 2026, dari 485 titik menjadi 26 titik. Perkembangan ini menunjukkan penurunan jumlah titik panas yang terdeteksi di wilayah tersebut, meskipun potensi karhutla tetap perlu diwaspadai," ujar Andri.***
Artikel Terkait
Karhutla Ganggu Penerbangan, Dua Pesawat dari dan ke Soekarno-Hatta Batal
Ferry Irwandi Bongkar Masalah Bursa RI, Kenapa MSCI Mau Turunkan Status Indonesia?
Asap Karhutla Makin Pekat, BNPB Kerahkan 2,4 Ton Dry Ice untuk Bantu Penerbangan