Temuan iSeeCars menunjukkan bahwa rata-rata EV kehilangan nilai hingga 57%–59% dalam 5 tahun pertama, sementara mobil bensin/SUV konvensional hanya menyusut sekitar 41%.
Dalam konteks Indonesia, cepatnya penurunan harga EV baru dipicu oleh dua faktor mendasar:
Laju Teknologi yang Terlalu Cepat: Perkembangan jarak tempuh baterai dan kecepatan pengisian daya (fast charging) berkembang pesat setiap tahunnya, membuat EV model lama terasa cepat tertinggal.
Perang Harga Pabrikan: Diskon masif dan penyesuaian harga mobil listrik baru oleh produsen secara otomatis langsung menekan nilai resale value EV di pasar mobil bekas.
2. Stigma Baterai vs Realita Resale Value
Bagi konsumen yang mempertimbangkan pilihan SUV bekas apa EV baru, kecemasan akan daya tahan baterai menjadi faktor psikologis terbesar. Menariknya, riset teknis independen membuktikan bahwa baterai EV sebenarnya jauh lebih awet daripada dugaan publik.
"Kabar baiknya, baterai EV bertahan sangat baik seiring waktu. Studi menunjukkan bahwa sebagian besar baterai kendaraan listrik akan bertahan lebih lama daripada usia fisik mobil itu sendiri." tulis laporan Greentec Auto dari Riset Geotab (Lembaga Analisis Telematika Otomotif Global.
Data Geotab mencatat degradasi kapasitas baterai EV rata-rata hanya berkisar 2,3% per tahun. Sayangnya, selama belum ada standar resmi pemeriksaan kesehatan baterai (State of Health/SoH) yang transparan di pasar mobil bekas Indonesia, calon pembeli tetap enggan membayar mahal untuk EV bekas.
Artikel Terkait
Kronologi KMP Batumandi Terbakar di Bakauheni-Merak, ASDP Pastikan Seluruh Penumpang Dievakuasi
KPK Ungkap Hasil Pemulihan Aset 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran Capai Rp229,81 Miliar
Geger Suara Tembakan di Sukoharjo: Pembakar Warung Mi Babi Digerebek, Busur Panah hingga Samurai Diamankan Polisi
Mengenal Google Analytics, Senjata Baru Redaksi Media Online Membaca Perilaku Pembaca