Komitmen inilah yang meminimalisir risiko kebakaran ekstrem (thermal runaway).
Selain aman, Blade Battery memiliki usia pakai sangat panjang dan sanggup melewati ribuan kali siklus pengisian daya tanpa penurunan performa signifikan.
Karena menggunakan bahan berbasis fosfat dan besi tanpa mengandalkan nikel atau kobalt yang mahal, biaya manufakturnya lebih terjangkau sehingga harga jual mobil bisa ditekan.
Sisi Kekurangan yang Perlu Diperhatikan.
Meski menawarkan sederet keunggulan, Blade Battery tetap memiliki keterbatasan khas material LFP. Pertama adalah soal energy density atau kepadatan energi.
Secara bobot, baterai LFP cenderung lebih berat dibandingkan baterai berbasis nikel (NMC). Agar mencapai jarak tempuh yang setara dengan mobil listrik performa tinggi, dimensi dan bobot baterai LFP harus dibuat lebih besar.
Kedua, performa baterai ini sedikit menurun ketika dioperasikan pada suhu sangat dingin di bawah nol derajat Celsius. Kecepatan pengisian daya (charging speed) dan jangkauan jarak tempuhnya bisa berkurang di cuaca ekstrem. Kendati demikian, untuk negara beriklim tropis seperti Indonesia, poin minus ini hampir tidak terasa.
Terakhir adalah faktor perbaikan. Karena sel baterai dirangkai secara menyatu tanpa sistem modul biasa, perbaikan atau penggantian sel individual jika terjadi kerusakan fatal akan jauh lebih rumit dibandingkan baterai modular tradisional.
Kesimpulan
Artikel Terkait
Dua Tahun Gerak Nyata, Deretan Alutsista Baru Perkuat Pertahanan Indonesia
Viral Lereng Gunung Lawu Menyala Merah, Api Karhutla Mulai Dekati Jalur Pendakian
Agnez Mo Debut Film Hollywood Bareng Nicolas Cage, Bakal Main di C.L.A.Y.
Serukan Kritik di Bundaran HI, 6 Aktivis Greenpeace Diamankan Polisi