Gangguan yang dilaporkan mencakup penerbangan tertunda atau dibatalkan, sekolah ditutup, serta imbauan penggunaan masker bagi anak-anak dan lansia di sejumlah wilayah.
Robert Field, peneliti dari NASA Goddard Institute for Space Studies dan Columbia University, menjelaskan sebagian asap dapat terangkat ke atmosfer melalui aktivitas badai, tetapi banyak yang tetap berada dekat permukaan dan mengganggu kualitas udara.
“It’s a horrible situation (Ini situasi yang mengerikan),” kata Field, menggambarkan kondisi tersebut.
Kekeringan dan Aktivitas Manusia Perbesar Risiko
NASA menjelaskan kondisi kering yang berkaitan dengan El Niño telah meningkatkan kerentanan ekosistem di Pulau New Guinea terhadap kebakaran.
Ketika hujan berkurang dalam waktu lama, vegetasi dan lahan menjadi lebih mudah terbakar, sehingga api yang awalnya digunakan untuk mengelola lahan berisiko menyebar di luar kendali.
Para peneliti menyebut aktivitas manusia menjadi pemicu utama kebakaran di kawasan tersebut, termasuk pembukaan lahan pertanian, pemeliharaan padang penggembalaan, dan perburuan.
Peneliti Yang Chen dari University of California, Irvine, menilai aktivitas kebakaran pada 2026 meningkat tajam di Papua Indonesia dan Kalimantan dibandingkan Sumatera serta sejumlah wilayah Indonesia bagian barat.