Hubungan ini harus berlangsung dua arah. Arahan bergerak dari pimpinan kepada pelaksana, sementara informasi tentang hambatan dan kondisi lapangan kembali menjadi bahan pertimbangan pimpinan.
Ketika anggota menemukan persoalan yang tidak sesuai dengan perencanaan, informasi tersebut seharusnya menjadi bahan evaluasi, bukan sekadar laporan tambahan. Organisasi yang baik memberi ruang bagi informasi lapangan untuk memperbaiki keputusan.
Dengan cara ini, koordinasi tidak hanya menjadi urusan administrasi. Koordinasi menjadi sarana untuk memastikan semua fungsi bekerja menuju tujuan yang sama.
3. Menggerakkan Organisasi dan Mengukur Hasil
Kepemimpinan strategis memerlukan keberanian menentukan prioritas dan kedisiplinan mengevaluasi hasil. Anggaran, personel, sarana, dan waktu harus diarahkan pada kebutuhan yang paling penting.
Siklusnya dapat dipahami melalui lima langkah: membaca situasi, menentukan prioritas, mengambil keputusan, menggerakkan sumber daya, dan mengevaluasi hasil.
Evaluasi menjadi bagian yang tidak boleh dilewatkan. Banyaknya kegiatan belum tentu menunjukkan bahwa persoalan telah terselesaikan. Patroli merupakan aktivitas, sedangkan berkurangnya gangguan berulang merupakan hasil yang perlu dinilai. Penyuluhan merupakan kegiatan, sementara meningkatnya pemahaman masyarakat tentang pencegahan kejahatan merupakan salah satu hasil yang diharapkan.
Pemimpin perlu menanyakan apakah program yang dilaksanakan benar-benar memberikan manfaat, apa hambatannya, dan perubahan apa yang harus dilakukan.
Artikel Terkait
BNCT dan Mitra Strategis Letakkan Fondasi Pendidikan bagi Generasi Muda Belawan
Green Policing, Kapolda Sumut Pimpin Penanaman Pohon di Mapolda
Pemutihan Pajak Kendaraan Riau Resmi Bergulir, Tunggakan Lama Dapat Keringanan