Menurutnya, beban krisis seharusnya tidak hanya ditanggung oleh pekerja, terutama ketika perusahaan masih memiliki kemampuan untuk menjaga keberlangsungan pekerjaan.
Sebagai pengusaha, ia merasa merasa berat dengan kondisi saat itu dan memikirkan nasib karyawannya jika opsi PHK dilakukan, sehingga memutuskan untuk melakukan pengurangan penghasilan agar ditanggung bersama.
Hasilnya, pada 2022, saat harga batu bara kembali melonjak, kinerja Adaro pun ikut kembali ke trafik positif hingga melesat.
“DNA kita memang yang di Indonesia. Baik buruknya, ini negara kita. Mau diapain? Ya sudah, apa yang kita bisa perbuat,” imbuhnya.
Pandangan itulah yang kini tercermin dalam keputusan bisnis grup Adaro. Dana yang diperoleh dari pelepasan aset di Australia diarahkan kembali ke Indonesia untuk memperbesar aktivitas usaha sekaligus menciptakan dampak ekonomi di dalam negeri.
Keputusan membawa pulang dana hasil divestasi bukan semata-mata soal memindahkan modal, tetapi juga bagian dari komitmen untuk membangun bisnis, membuka lapangan kerja, dan memberikan manfaat lebih besar di Tanah Air.***