Konsumen di pasar bekas kini cenderung lebih selektif dan mulai meragukan aspek fungsionalitas jangka panjang, terutama terkait kapasitas kabin yang terbatas untuk keluarga serta jarak tempuh maksimal yang dirasa kurang memadai bagi mobilitas lintas kota.
Keraguan psikologis pasar terhadap keterbatasan ruang bagasi dan konfigurasi empat penumpangnya membuat likuiditas unit bekas ini mengalami perlambatan.
Kendati demikian, koreksi harga hingga kisaran Rp100 juta kecil ini justru menciptakan peluang baru bagi segmen pembeli tertentu. Bagi masyarakat urban yang membutuhkan kendaraan harian khusus dalam kota dengan anggaran terbatas, harga tersebut dinilai sangat kompetitif.
Biaya operasional yang rendah serta kemudahan pengisian daya di rumah menjadi daya tarik penopang yang membuat Air ev bekas tetap diminati oleh pembeli rasional yang tidak mempermasalahkan dimensi kecilnya.
Fenomena koreksi harga dan kejenuhan pasar ini memberikan pelajaran penting bagi industri otomotif nasional, khususnya segmen elektrifikasi.
Depresiasi tajam pada mobil listrik generasi awal menunjukkan bahwa kecepatan inovasi teknologi dan strategi peluncuran varian baru oleh pabrikan berdampak langsung terhadap stabilitas nilai aset konsumen di pasar sekunder.
Ke depan, stabilitas harga jual kembali akan menjadi salah satu faktor penimbang utama bagi konsumen dalam menentukan pilihan sebelum beralih sepenuhnya ke kendaraan ramah lingkungan.***