Kawasan transmigrasi tidak hanya mengangkat hidup para transmigran. Dari kawasan-kawasan yang ada menjadi lumbung pangan nasional. Kawasan Transmigrasi Telang di Banyuasin, Sumatera Selatan, dinobatkan oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai penghasil beras terbesar di Indonesia.
Dari catatan yang ada, Banyuasin di tahun 2025 mampu memproduksi gabah kering 1,2 juta ton. Hasil panen itu didapat dari lahan seluas 189.000 Ha. Dari lahan seluas itu 70 persennya berada di kawasan transmigrasi. Di kawasan transmigrasi yang ada di Muara Telang ada sawah seluas 22.000 Ha hingga 26.000 Ha. Desa yang beada di kawasan itu, Telang Rejo ada 1600 Ha. Dalam setahun bisa dilakukan panen sebanyak dua hingga tiga kali dengan produksi 7 ton hingga 8 ton/Ha. “Hadir di Telang saat panen raya”, ungkapnya.
Memindahkan penduduk lewat transmigrasi merupakan upaya untuk menciptakan berbagai interaksi mulai dari interaksi ekonomi, sosial, dan budaya. Perjalanan waktu dari transmigrasi yang dilakukan sejak resmi masa Presiden Soekarno pada tahun 1950 telah menciptakan desa, kecamaatan, kabupaten/kota hingga provinsi. “Terbentuk 1.567 desa definitif, 466 kecamatan, 116 kota/kabupaten, dan 3 provinsi dari adanya program transmigrasi”, sebut Viya Yoga. “Di wilayah-wilayah itu muncul kawasan pertumbuhan ekonomi”, ucapnya.
Dalam membangun kawasan transmigrasi, Kementerian Transmigrasi melibatkan berbagai perguruan tinggi. “Saat transmigrasi masih berada di Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, UPN telah menjalin sinergi terkait pembangunan masyarakat”, ujarnya. Viva Yoga berharap sinergi Kementerian Transmigrasi dan UPN bisa dijalin kembali di tahun yang akan datang.
Keterlibatan perguruan tinggi dalam membangun kawasan transmigrasi sangat penting karena untuk mengubah kondisi lahan dan alam perlu sentuhan riset dan teknologi tepat guna.(Lie)