Persoalan berikutnya adalah harga Honda EM1 e bekas. Pantauan di OLX menunjukkan sejumlah unit 2024 ditawarkan sekitar Rp17,9 juta hingga Rp26 juta. Bahkan terdapat listing unit 2026 dengan harga Rp20 juta. Harga tersebut merupakan harga yang diminta penjual, bukan bukti bahwa transaksi akhirnya terjadi pada angka tersebut.
Jika menggunakan harga baru Rp40 juta sebagai pembanding, unit yang ditawarkan Rp17,9 juta berarti hanya sekitar 45 persen dari harga baru. Selisih tersebut menunjukkan depresiasi yang sangat besar dalam beberapa tahun pertama, meski harga listing tidak bisa langsung dianggap sebagai nilai pasar atau harga transaksi sebenarnya.
Pasar bekas juga menghadapi persoalan lain pada kendaraan listrik, terutama terkait baterai dan perkembangan teknologi. Calon pembeli dapat mempertimbangkan kondisi baterai, sisa masa pakai, ketersediaan komponen, layanan purnajual, serta harga motor listrik baru yang terus berubah.
Kondisi tersebut membuat Honda EM1 e bekas menghadapi tantangan untuk mempertahankan nilai jual. Jumlah listing yang relatif terbatas di platform seperti OLX juga belum cukup untuk menyimpulkan bahwa tidak ada peminat sama sekali, tetapi harga penawaran yang jauh di bawah harga baru menjadi sinyal yang menarik untuk diperhatikan.
Padahal, Honda merupakan salah satu merek dengan jaringan penjualan dan purnajual terbesar di Indonesia. Secara teori, kekuatan merek tersebut seharusnya menjadi modal penting ketika Honda masuk lebih serius ke pasar kendaraan listrik.
Namun, EM1 e memperlihatkan bahwa nama besar pabrikan tidak otomatis membuat sebuah produk memiliki nilai jual kembali yang kuat. Harga, spesifikasi, kebutuhan pengguna, ekosistem baterai, dan persepsi terhadap teknologi listrik ikut menentukan keputusan konsumen.
Karena itu, menyebut Honda EM1 e sebagai blunder memang merupakan sebuah penilaian, bukan fakta objektif yang sudah terbukti. Tetapi jika ukurannya adalah rasio harga terhadap performa serta depresiasi pada sejumlah listing bekas, ada alasan kuat mengapa produk ini menjadi bahan perdebatan di pasar motor listrik Indonesia.(Lie)