Beli Rp800 Juta, Jual Bekas Sisa Rp400 Jutaan: "Duka" Early Adopter Ioniq 5 Terhantam Perang Harga EV Tiongkok

Photo Author
Lili Suheli, KeadilanNews.com
- Sabtu, 3 Oktober 2026 | 11:05 WIB
Beli Rp800 Juta, Jual Bekas Sisa Rp400 Jutaan: "Duka" Early Adopter Ioniq 5 Terhantam Perang Harga EV Tiongkok/ foto Hyundai.com
Beli Rp800 Juta, Jual Bekas Sisa Rp400 Jutaan: "Duka" Early Adopter Ioniq 5 Terhantam Perang Harga EV Tiongkok/ foto Hyundai.com

KEADILANNEWS.com | Dua hingga tiga tahun lalu, mengendarai Hyundai Ioniq 5 di jalanan kota besar Indonesia memberikan kebanggaan tersendiri. Sebagai salah satu pelopor kendaraan listrik (electric vehicle/EV) rakitan lokal bermodel futuristik, mobil ini langsung memikat hati para pengadopsi awal (early adopters).
Kehadirannya tidak hanya menandai gaya hidup modern yang ramah lingkungan, tetapi juga simbol status sosial. Namun, seiring berjalannya waktu, ada cerita pait yang harus ditelan oleh para pemilik pertamanya.

Saat pertama kali mengaspal pada pertengahan 2022, Hyundai Ioniq 5 ditawarkan pada kisaran harga Rp750 juta hingga Rp850 jutaan untuk varian tertinggi. Pembeli berbondong-bondong mengantre, bahkan rela menanti inden hingga berbulan-bulan demi membawa pulang kendaraan ramah lingkungan ini.

Siapa sangka, lanskap pasar mobil listrik Indonesia berubah sangat cepat hanya dalam waktu singkat. Memasuki pasar bekas saat ini, unit Ioniq 5 keluaran 2022 atau 2023 kini banyak dipasarkan di kisaran Rp400 juta hingga Rp490 jutaan, tergantung kondisi unit dan angka jarak tempuh.

Artinya, kendaraan ini mengalami penyusutan nilai (depresiasi) lebih dari 40 persen, atau bernilai penurunan hingga Rp300 juta lebih hanya dalam pemakaian 2–3 tahun.

Tergerus Gempuran Pabrikan Tiongkok

Faktor utama di balik anjloknya harga bekas Ioniq 5 tidak lepas dari masuknya gelombang besar lini mobil listrik asal Tiongkok.

Pabrikan-pabrikan Tiongkok hadir membawa strategi agresif: menawarkan mobil listrik berteknologi tinggi, interior mewah, dan jarak tempuh mumpuni di rentang harga anyar Rp400 jutaan.

Situasi ini menciptakan impak berantai pada psikologi konsumen. Calon pembeli yang tadinya berniat memboyong Ioniq 5 bekas kini dihadapkan pada pilihan yang serba dilematis.

Dengan anggaran Rp400 jutaan, mereka sekarang bisa mendapatkan mobil listrik baru gres dari pabrik lengkap dengan garansi utuh dan fitur modern, ketimbang membeli unit bekas pakai walau berasal dari brand ternama.

Akibatnya, para pedagang mobil bekas terpaksa memangkas harga jual Ioniq 5 secara signifikan agar tetap menarik minat pembeli dan menghindari penumpukan stok.

'Pajak Inovasi' Bagi Pengadopsi Awal

Bagi para early adopters, fenomena ini mendatangkan kekecewaan mendalam. Mereka yang awalnya berinvestasi pada teknologi masa depan harus rela menanggung risiko depresiasi finansial yang masif.

Dalam dunia teknologi, kondisi ini sering diibaratkan sebagai "pajak inovasi"—harga mahal yang wajib dibayar oleh konsumen yang ingin menjadi yang pertama merasakan keunggulan suatu teknologi baru sebelum pasarnya matang dan kompetitif.

Di sisi lain, kejatuhan harga ini menjadi angin segar bagi konsumen pasar sekunder. Mereka yang mengincar kendaraan listrik berukuran lapang, memiliki performa andal, serta kenyamanan kelas atas kini dapat memiliki Ioniq 5 dengan harga yang jauh lebih ramah di kantong.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Lili Suheli

Terkini

X