daerah

Diskusi Fasilitas Kebudayaan di Badan Pelestarian Kebudayaan Sumatara Utara

Rabu, 30 September 2026 | 18:00 WIB
Foto bersama usai pertemuan balai pelestarian budaya Sumatera Utara.(Ist)

MEDAN | Keadilannews.com– Penguatan fasilitas kebudayaan di Sumatera Utara mengelar pertemuan diskusi komunitas Pencinta Kebudayaan Sumut dalam yang digelar di lingkungan Badan Pelestarian Kebudayaan Sumatera Utara (BPK RI) . Forum ini menegaskan bahwa keberadaan sarana kebudayaan saat ini butuh kreasi kebersamaan dan kolaborasi seni budaya dan warisan sejarah dalam mendukung pelestarian sekaligus pemanfaatan bagi masyarakat luas. di Jl. Jalan Seroja Raya, Gang Arkeologi Nomor 1, Kelurahan Tanjung Selamat, Kecamatan Medan Tuntungan, Kota Medan, Sumatera Utara. Selasa (29/09/2026)

Diskusi yang menghadirkan unsur komunitas IA, Sejarawan, Tokoh Masyarakat, Penguat Film Seni Budaya, akademisi, praktisi budaya, dan media ini mengangkat persoalan klasik yang terus berulang, mulai dari minimnya generasi muda menggenal situs budaya, keterbatasan anggaran, hingga rendahnya akses publik terhadap fasilitas kebudayaan.

Sejumlah peserta menilai, banyak situs dan fasilitas budaya di Sumatera Utara yang belum terkelola secara maksimal. Bahkan, tidak sedikit yang mengalami kerusakan tanpa penanganan serius.

“Fasilitas kebudayaan tidak boleh hanya menjadi simbol administratif, tetapi harus hidup dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” ungkapSailia Rusdi wakil kepala BPK RI dalam diskusi tersebut.

Selain itu, isu rendahnya keterlibatan generasi muda juga menjadi perhatian. Kurangnya inovasi dan pendekatan digital dinilai menjadi salah satu penyebab minimnya minat anak muda terhadap budaya lokal.

Diskusi ini juga menyoroti pentingnya digitalisasi kebudayaan sebagai langkah strategis di era modern. Pengembangan museum virtual, arsip digital, serta pemanfaatan platform media dinilai mampu memperluas jangkauan edukasi budaya.

Di sisi lain, integrasi sektor kebudayaan dengan ekonomi kreatif dinilai sebagai peluang besar yang belum dimanfaatkan secara optimal. Event budaya, festival daerah, hingga produk UMKM berbasis budaya diyakini dapat menjadi penggerak ekonomi masyarakat.

Forum tersebut juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah, perguruan tinggi, komunitas, hingga media massa. Peran media dianggap krusial dalam membangun kesadaran publik serta mengangkat isu-isu pelestarian budaya ke ruang yang lebih luas.

“Tanpa kolaborasi, upaya pelestarian budaya akan berjalan sendiri-sendiri dan tidak berkelanjutan,” tegas Ok. Hatta peserta diskusi.

Sebagai tindak lanjut, forum ini mendorong adanya langkah konkret dari pemerintah daerah untuk memperkuat kebijakan, meningkatkan anggaran, serta memastikan pengelolaan fasilitas kebudayaan dilakukan secara profesional dan transparan.

Diskusi ini diharapkan menjadi momentum awal dalam membangun kesadaran bersama bahwa kebudayaan bukan hanya warisan masa lalu, tetapi juga fondasi penting bagi masa depan daerah.

Hadir dalam pertemuan, OK, Hatta, Wakil Kepala Balai Sailia Rusdi beserta staff, Bayu Putra, Anditia, ST, Lili Suheli.(Red)

 

Terkini