Keadilannews.com – Terdakwa Aksi Terorisme Aman Abdurrahman menolak keras tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) yang mengaitkannya dengan teror Bom Thamrin dan sejumlah aksi teror lainnya dalam pembacaan pleidoi di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jumat (25/5). Dalam kesempatan yang sama, Aman juga sempat mengkritik aksi pengeboman gereja di Surabaya beberapa waktu lalu.

Abdurrahman menyebut, teror bom gereja di Surabaya tidak mungkin muncul dari orang yang mengerti ajaran Islam. Ia justru memandang keji aksi pengeboman gereja dan Mapolrestabes Surabaya.

“Ayah mengorbankan anak-anaknya, ibu bersama anaknya melakukan bunuh diri, dua kejadian itu, orang yang menyatakan itu jihad adalah orang yang sakit jiwanya,” tutur Abdurrahman.

Abdurrahman dituntut oleh JPU karena menjadi aktor intelektual dan menginspirasi Bom Thamrin dan sejumlah kasus terorisme lainnya. Namun, Abdurrahman menolak dirinya dikaitkan dengan kasus kasus tersebut.

Dalam pembelaannya, Aman mengakui ia menulis dan mengajarkan ideologi khilafah. Namun, menurut dia, ajarannya masih dalam tataran ilmu tauhid.

ajarannya belum sampai pada tataran aksi dan amaliyah. Justru, kata Abdurrahman, saat ini ia tidak menganjurkan murid atau penganut ajarannya agar tidak melakukan tindakan perlawanan pada aparat pemerintah.

Abdurrahman pun membantah semua tudingan JPU. Dalam pembacaan tuntutan pada Jumat (18/5), Abdurrahman dituntut hukuman mati oleh JPU. Dia disebut memenuhi seluruh tuntutan yang disusun JPU, yakni dakwaan kesatu primer dan dakwaan kedua primer.

Pada dakwaan kesatu primer, Abdurrahman dinilai melanggar Pasal 14 juncto Pasal 6 Perppu Nomor 1 Tahun 2002 yang telah ditetapkan menjadi UU Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme sebagaimana dakwaan kesatu primer. Lalu, dakwaan kedua primer, Aman Abdurrahman dinilai melanggar Pasal 14 juncto Pasal 7 Perppu Nomor 1 Tahun 2002 yang telah ditetapkan menjadi UU Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.

Dalam perkara tersebut Aman Abdurrahman dituntut sebagai sebagai aktor intelektual sejumlah kasus teror, yaitu Bom Gereja Oikumene di Samarinda pada 2016, Bom Thamrin (2016), Bom Kampung Melayu (2017) Jakarta, serta dua penembakan polisi di Medan dan Bima (2017). Aman pun terancam pidana penjara lebih dari 15 tahun atau hukuman mati.

Terdakwa sebelumnya juga pernah divonis bersalah pada kasus Bom Cimanggis pada 2010. Dalam kasus ini, Aman disebut berperan dalam membiayai pelatihan kelompok teror di Jantho, Aceh Besar. Dalam kasus itu, Aman Abdurrahman divonis sembilan tahun penjara.


Warning: A non-numeric value encountered in /home/keadilan/public_html/wp-content/themes/Newspaper/includes/wp_booster/td_block.php on line 326

LEAVE A REPLY