Blok Mahakam jangan dikuasai asing, “Saatnya Pertamina mengelola Blok Mahakam, Kementerian ESDM jangan jadi antek asing” itu berbagai headline-headline yang mewarnai surat kabar nasional maupun lokal ditahun 2015-2016 yang mencuat ketika Blok Mahakam akan berakhir masa kontraknya ditahun 2017.

Total IndonesIn yang sudah menjadi operator Blok Mahakam bersama Inpex Corporation sejak tahun 6oan pun akhirnya menyingkir, namun tidak dengan resoucesnya seperti cadangan migas dan juga Pekerja Migas yang ada di Blok Mahakam, semuanya tanpa terkecuali “berganti baju” menjadi Pertamina Hulu Mahakam.

Keberpihakan Pemerintah Republik Indonesia kepada National Oil Company (NOC) yakni Pertamina terlihat jelas pada masa itu walaupun kemudian menimbulkan pertanyaan mampukah Pertamina Hulu Mahakam menjaga dan meningkatkan produksi migas Blok Mahakam dengan kompleksitas lapangan serta pendanaan, mengingat tidak ada Interest yang diberikan kepada pihak luar selain Participating Interest untuk BUMD. Komitmen Pertamina atas pendanaan di Blok Mahakam ditahun 2018 juga tidak main-main, telah dianggarkan dana investasi mencapai 700 juta dollar AS dan dana operasi sebesar 1,1 miliar dollar AS dengan komitmen pengeboran atas 11 sumur baru ditahun 2018.

Namun kini, pada tahun 2018 nuansa berbeda disajikan kepada masyarakat, masyarakat, tokoh masyarakat dan juga yang paling terkini adalah pernyataan Anggota Komisi VII DPR RI, Kardaya Warnika yang merupakan mantan Kepala BPMIGAS memberikan pernyataan bahwa penugasan yang diberikan Pemerintah kepada PT Pertamina (Persero) untuk mengelola blok minyak dan gas bumi yang habis masa kontraknya dinilai perlu dikaji ulang. Pertanyaannya adalah, bila wakil rakyat sudah mengeluarkan statemen seperti itu lalu dimana letak keberpihakannya kepada Perusahaan Nasional?”

Indonesian Community for Energy Research (ICER) Salam kajian memberi catatan pengelolaan blok Mahakam yang merupakan blok penghasil gas terbesar di Indonesia adalah suatu langkah besar yang membanggakan dan menjadi titik balik pertamina menuju world class company.

“Statement pak Kardaya ini sangat kontra produktif dan menghambat progress kemajuan yang telah diperjuangkan pemerintah untuk menguatkan posisi Pertamina sebagai tulang punggung industri hulu migas nasional, dalam hal kritikan tentunya untuk membangun dan harus sesuai data agar tidak membuat tersesat.

Optimisme tinggi ICER kepada Pertamina Hulu Mahakam (PHM) akan sukses dalam pengoperasian blok Mahakam seperti pada blok WMO dan ONWJ dan mampu menjaga penerimaan negara dari blok Mahakam tetap stabil. Dalam Blok migas strategis seperti mahakam perlu diapresiasi oleh semua stakeholders migas terkait karena sesuai dengan semangat nasionalisasi hulu migas yang diharapkan oleh masyarakat sejak lama dan tidak akan mengganggu upaya pemerintah dalam meningkatkan geliat investasi di hulu migas.

Minat investasi swasta/asing pastinya tetap didorong, target besarnya kan tetap diarahkan dulu ke kegiatan eksplorasi, pengembangan lapangan marjinal dan unkonvensional. Diharapkan mampu sinergi membagun bangsa dengan pemberian terbaik untuk energi Sebagai kemaslahatan bangsa.

*Penulis adalah Direktur Eksekutif Indonesia Community for Energy Research (ICER)
Iqbal Tawakal

 

LEAVE A REPLY